Site icon AKDAH

Kelemahan Tak Terduga yang Menyebabkan Flavio Cobolli Gagal di Prancis Open

Redaksi AKDAH – Flavio Cobolli, petenis muda asal Italia, menunjukkan performa yang menjanjikan meskipun kalah dari Alexander Zverev di final Roland Garros. Pada usia 24 tahun, Cobolli berhasil memberikan perlawanan ketat, namun mantan petenis Inggris, Tim Henman, melihat masih banyak aspek yang perlu diperbaiki, terutama terkait servisnya.

Dalam komentarnya di Eurosport setelah pertandingan, Henman menyoroti bahwa meskipun Cobolli memiliki kemampuan yang mengesankan, tingkat kekuatan servisnya belum sebanding dengan para pemain top lainnya. Untuk bisa bersaing di level tertinggi, Henman menyarankan Cobolli untuk meningkatkan persentase servis pertamanya agar lebih banyak peluang dapat diberikan kepada forehand-nya.

Zverev sendiri mencetak prestasi dengan kemenangan ini, menjadi pemain dengan rekor kemenangan terbanyak dalam pertandingan lima set di Roland Garros, termasuk tiga pertandingan yang dimenangkannya di turnamen ini. Jalan Zverev menuju gelar tidak mudah, karena ia harus berjuang melawan Holger Rune dan Taylor Fritz sebelum akhirnya menghadapi Cobolli di final.

Dengan hasil ini, Cobolli tidak hanya mencatatkan langkah maju dalam karirnya, tetapi juga akan memasuki jajaran 10 besar ATP untuk pertama kalinya. Sebelumnya, ia sudah mencapai perempat final di Wimbledon tahun lalu, yang menjadi pencapaian terbaiknya hingga kini.

Kemenangan Zverev juga menandai berakhirnya dominasi Grand Slam yang baru saja dipegang oleh Carlos Alcaraz dan Jannik Sinner. Dengan Alcaraz mundur dari Roland Garros dan Sinner tersingkir lebih awal, Zverev mengambil kesempatan ini untuk merengkuh gelar juara, sekaligus menjadi salah satu dari enam pemain dalam era Open yang memiliki gelar Grand Slam dan medali emas Olimpiade.

Exit mobile version