Jalan Menuju Kecerdasan Super Buatan di Masa Depan

Redaksi akdah.ac.id – Dalam dunia teknologi yang semakin maju, kemampuan para agen untuk beroperasi secara kolektif menjadi kunci untuk mencapai kecerdasan super terdistribusi. Hal ini diungkapkan oleh Ashutosh Pandey, yang mencatat bahwa ada celah arsitektural yang perlu ditangani untuk memungkinkan agen-agen ini bekerja sama secara efisien. Dalam pernyataannya, Pandey menjelaskan bahwa kegagalan untuk melakukan koordinasi yang tepat dapat menyebabkan sistem multi-agen yang tidak terkoordinasi berfungsi lebih buruk dibandingkan sistem satu agen.

Membangun Jaringan Koordinasi

Untuk mencapai tujuan ini, Outshift telah mengembangkan layer konektivitas bernama AGNTCY, yang merupakan proyek open-source di bawah naungan Linux Foundation. AGNTCY memungkinkan agen-agen dari berbagai sistem, perusahaan, dan platform untuk saling menemukan, membuktikan identitas, dan bertukar pesan melalui protokol yang terbuka dan standar. Dengan adanya AGNTCY, agen-agen ini dapat lebih mudah berinteraksi dan berkolaborasi, sebuah langkah penting untuk mewujudkan tesis Internet of Cognition.

Arah Baru dalam Kecerdasan Buatan

Pandey menjelaskan bahwa AGNTCY menciptakan lapisan semantik yang memungkinkan agen-agen untuk menyelaraskan tujuan (berbagi maksud), mengumpulkan pengetahuan institusional dan ingatan kolektif (berbagi konteks), serta membuat trade-off secara kolektif (berbagi alasan). Proses ini tidak hanya mengenai aspek teknis, tetapi juga berhubungan erat dengan bagaimana manusia berkembang sebagai masyarakat.

Perbandingan dengan Perkembangan Manusia

Pandey membandingkan kemajuan agen-agen ini dengan evolusi manusia. Ia menyatakan bahwa selama ratusan ribu tahun, manusia menjadi lebih cerdas secara individu, tetapi pencapaian tersebut hilang bersama orang yang mencapainya. Sekitar 70.000 tahun yang lalu, manusia mulai belajar untuk berbagi maksud, membangun pengetahuan bersama, dan beralasan secara kolektif. Inilah saatnya individu yang tersebar mulai membentuk peradaban.

Langkah Awal Menuju Superintelligence Terdistribusi

Untuk memungkinkan agen-agen bekerja secara kolektif, ada tiga pilar utama dalam tumpukan teknologi yang perlu dipertimbangkan:

1. Maksud Bersama melalui Protokol Status Kognisi: Protokol status kognisi bertindak sebagai “salam semantik” yang memungkinkan agen-agen untuk sepakat mengenai tujuan sebelum bertindak dan kemudian bernegosiasi untuk mencapainya. Outshift telah menciptakan layer koordinasi open-source bernama Mycelium, yang dapat dipakai oleh organisasi untuk memanfaatkan agen mereka sendiri.

2. Peningkatan Proses Pengambilan Keputusan: Dalam uji internal, Pandey mencatat bahwa kelompok yang tidak terstruktur hanya mencapai keputusan sekitar sepertiga dari waktu selama 14 skenario yang berbeda. Namun, dengan adanya protokol koordinasi yang membuat agen-agen mendeklarasikan tujuan, mengungkap informasi yang kurang, dan menyelesaikan konflik sebelum bertindak, tingkat keberhasilan meningkat menjadi 93%.

Kesimpulan

Pemahaman yang lebih baik mengenai bagaimana agen-agen dapat bekerja sama dan berbagi informasi adalah langkah selanjutnya dalam menarik perhatian para peneliti dan pengembang di bidang kecerdasan buatan. Dengan adanya inisiatif seperti AGNTCY, diharapkan para agen dapat mencapai tingkat kolaborasi yang lebih tinggi, yang akan membuka jalan untuk kemajuan yang lebih signifikan di bidang kecerdasan buatan dan teknologi. Perkembangan ini tidak hanya berpotensi memengaruhi dunia teknologi tetapi juga cara kita memahami dan berinteraksi dengan sistem cerdas di masa depan.